TVRINews, Jakarta
Komisi Nasional Pengendalian Narkotika Tiongkok (National Narcotics Control Commission/NNCC) telah memberikan apresiasi atas keberhasilan Polri bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengungkap laboratorium gelap sabu di Aceh. Hal tersebut, diungkapkan oleh Wakil Sekretaris Jenderal NNCC sekaligus Wakil Direktur Jenderal Biro Pengendalian Narkotika Kementerian Keamanan Publik Tiongkok, Lan Weihong.
Diketahui, pengungkapan kasus tersebut merupakan hasil kerja sama penegakan hukum lintas negara yang melibatkan Indonesia, Tiongkok, dan Malaysia.
Dalam operasi pada 21 Oktober 2026, aparat Indonesia menyita 1,2 ton sabu dan menangkap 11 tersangka. Sementara itu, otoritas Tiongkok menangkap tujuh orang yang diduga memiliki keterkaitan dengan jaringan narkotika tersebut.
Lan Weihong menjelaskan, pengungkapan kasus tersebut berawal dari penyelidikan intensif terhadap jaringan yang diduga menyelundupkan narkotika cair dari kawasan Myanmar, Thailand, dan Laos untuk dikirim ke sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Informasi intelijen yang dihimpun NNCC kemudian disampaikan kepada BNN sebagai dasar pelaksanaan kerja sama dalam mengungkap jaringan peredaran narkotika lintas negara.
“Pada bulan September tahun ini, NNCC Tiongkok sudah melaporkan informasi tersebut kepada BNN Indonesia dan kedua belah pihak menentukan melakukan kerja sama itu bisa bersama-sama memberantas tindak pidana narkotika lintas negara,” ujar Lan Weihong kutip Kamis, 29 Oktober 2026.
Ia menilai keberhasilan operasi tersebut menunjukkan pentingnya pertukaran informasi intelijen dan koordinasi antarlembaga dalam membongkar sindikat narkotika yang beroperasi di berbagai negara.
Menurutnya, sinergi Indonesia, Tiongkok, dan Malaysia memperlihatkan bahwa kerja sama yang terkoordinasi dapat mendukung pengungkapan kasus serta penindakan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam jaringan tersebut.
“Pihak Tiongkok, Indonesia, dan Malaysia dalam kasus kerja sama penegakan kasus ini, kita menunjukkan kapasitas penyelidikan yang sangat profesional, operasi gabungan yang kompak, pengambilan keputusan yang tegas, saling pengertian, dan juga akhirnya bisa mengungkapkan kasus ini dan mencapai hasil yang nyata dan luar biasa,” katanya.
Sementara itu, Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto menegaskan komitmen Polri untuk terus memperkuat kolaborasi internasional dalam memberantas peredaran narkotika. Menurutnya, pengungkapan laboratorium gelap sabu di Aceh tidak terlepas dari kerja sama aparat penegak hukum Indonesia dan dukungan NNCC.
“Yang mana beberapa waktu lalu kita telah melakukan pengungkapan secara bersama antara Polri, BNN Republik Indonesia, Bea Cukai, dan juga tentunya atas dukungan besar dari NNCC,” ujar Suyudi.
Kapolri menambahkan, penyidikan masih terus dikembangkan untuk mengungkap pihak-pihak yang diduga menjadi pendukung dan pendana jaringan tersebut. Penyidik juga mendalami kemungkinan adanya keterkaitan dengan jaringan narkotika lain, termasuk yang berada di Medan.
“Kami juga akan senantiasa mendukung Pemerintah Tiongkok dalam rangka mengungkap jaringan besarnya. Dan kami saat ini masih melakukan pengembangan terhadap kasus yang ada di Aceh ini terhadap para pendukung, para pendana, dan juga kaitan dengan jaringan yang satu lagi yang di Medan,” tegasnya.
Suyudi menegaskan pemberantasan narkotika membutuhkan kerja sama berkelanjutan, mengingat jaringan peredaran gelap dapat memanfaatkan jalur distribusi dan wilayah hukum sejumlah negara.
“Kami sangat serius untuk melakukan upaya pemberantasan narkotika di Indonesia. Kolaborasi ini akan terus kita tingkatkan dalam rangka keamanan di Indonesia dan juga di beberapa wilayah yang ada di sekitar kawasan Asia,” tutup Kapolri.
Melalui kerja sama tersebut, aparat penegak hukum diharapkan dapat menelusuri jaringan narkotika secara menyeluruh, termasuk mengungkap pihak yang diduga mengendalikan operasi dan menyediakan pendanaan, sehingga upaya pemberantasan narkotika lintas negara dapat berjalan lebih efektif.










